Posted on

Ushul Fiqh | Maslahah Mursalah

A. PENDAHULUAN
Syariat Islam adalah seperangkat pranata aturan yang memiliki dimensi vertical dan horizontal. Dalam tatanan vertical telah diatur hukum-hukum yang bersifat ta’abudi, sebagaimana tata cara shalat dan puasa. Dalam wilayah ini, Ketentan –ketentuannya berlaku sepangjang masa sebagaiamana adanya
Dalam tatanan hubungan horisontal yang menyangkut sesama manusia yang sebagian besar bersifat muamalah. Dalam wilayah ini ijtihad memiliki peranan strategis dalam menawarkan solusi dari berbagai problematika kehidupan, antara lain; qiyas, mashlahah mursalah, istihshan, ‘urf dan lainnya. Dalam menetapkan hukum melalui dalil tersebut, para ulama masih memperselisihkan penggunaannya.

Untuk itu dalam makalah ini penulis ingin mengulas pendapat para ulama tentang kehujjahan ‘urf dan mashlahah mursalah sebagai salah satu dalil dalam pensyariatan hukum.
1. ‘URF
a. Pengertian
‘Urf dapat diartikan sebagai suatu kebiasaan mayoritas umat dalam penilaian suatu perkataan atau perbuatan. Selain term ‘urf juga digunakan istilah adat atau tradisi.
Suatu ‘urf dapat dijadikan sebagai salah satu dalil dalam menetapkan hukum syara’ apabila memenuhi syarat sebagai berikut:
1) ‘Urf itu berlaku secara umum.
2) ‘Urf itu telah memasyarakat ketika persoalan yang akan ditetapkan hukumnya itu muncul.
3) Tidak bertentangan dengan yeng diungkapkan secara jelas.
4) Tidak ada nash yang mengandung hukum dari permasalahan yang dihadapi.
b. Pembagian ‘urf
Ulama’ ushul fiqh membagi ‘urf menjadi 3 macam:
1) Dari segi objeknya, ‘urf dibagi kepada: ‘urf lafdzi dan amali.
2) Dari segi cakupannya yaitu ‘urf ‘amm dan khash.
3) Dari segi keabsahannya; ‘urf shahih dan fasid.
c. Argumentasi ‘urf
Syariat islam datang untuk mengatur tatanan social kemasyarakatan dan berorientasi pencapaian kebahagiaan manusia dengan mengupayakan kemaslahatan dan menghindari madharat. Namun nash-nash Syariat tidak secara rinci memberikan solusi bagi beragam problematika umat. Disisi lain, manusia sering kali mentradisikan suatu tindakan yang dianggap baik, dan merupakan kebutuhan kesehariannya. Syaiat islam melihat bahwa beberapa bentuk tradisi tersebut perlu dikukuhkan dan diakui keberadaanya karena kaitan langsungnya dengan kemaslahatan umat
Karena itu Islam datang tidak serta merta melakukan dekonstruksi tatanan social masyarakat jahiliyah yang dianggap telah rusak. Beberapa tradisi bangsa arab sebagai sasaran awal penyebaran ajaran islam masih diakui dan dikukuhkan keberadaannya, seperti praktik qishosh dalam pembunuhan berencana, kewajiban diyat bagi pembunuhan tanpa faktor kesengajaan dan).
Dalam sebuah Riwayat dari Ibnu Abbas dikatakan bahwa ketika Rosullah hijrah kemadinah, Rosullah melihat penduduk setempat melakukan jual beli salam. Lalu Rosullah bersabda:
Artinya:“Barangsiapa yang melakukan jual beli salam maka hendaklah ditentukn jumlahnya, takarannya dan tenggang waktunya” (H.R Bukhari)
Dari contoh diatas dapat dipahami bahwa islam mengakui keberadaan tradisi sebagai pertimbangan dalam pensyariatan hukum islam.
Fuqoha menyepakati bahwa ‘urf merupakan salah satu dalil dalam pensyariatan menetapkan hukum islam

d. Kehujjahan ‘Urf
Ulama ushul fiqh sepakat bahwa ‘urf yang tidak bertentangan dengan syara’ dapat dijadikan hujjah dalam menentukan hukum syara’. Menurut Imam al-Qorofi , seorang ulama dari mazhab maliki, seorang ulama dalam menentukan hukum harus terlebih dahulu meneliti kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat setempat. Menurut as-Syatibi (ahli ushul fiqh maliki) dan ibnu Qoyyim(ahli ushul fiqh hanbali) seluruh ulama mazhab menerima dan menjadikan ‘urf sebagai dalil syara’ dalam menetapkan hukum apabila tidak ada nash yang menjelaskan hukum suatu masalah yang dihadapi misalnya, seseorang yang menggunakan jasa pemandian umum, dengan harga tertentu padahal ia lamanya dalam kamar mandi itu dan berapa jumlah air yang terpakai dengan jelas. Sesuai dengan ketentuan umum syariat dari syariat kedua hal itu harus jelas, tetapi karena perbuatan ini telah memasyarakat, maka seluruh ulama mazhab menganggap sah terhadap akad tersebut.menurut mereka dalam hal ini ‘urf amali yang berlaku.
Ulama Malikiyah terkenal dengan pernyataan mereka bahwa amal ahli Madinah dapat dijadikan hujjah. Imam Syafi’i terkenal dengan qaul qadim dan qaul jadidnya. Ada suatu kejadian tetapi beliau menetapkan hukum yang berbeda pada waktu beliau masih berada di Mekkah (qaul qadim) dengan setelah beliau berada di Mesir (qaul jadid). Hal ini menunjukkan bahwa dalam menetapkan hukum syara’ beliau juga memperhatikan aspek ‘urf masyarakat setempat.
Dari berbagai kasus ‘urf yang dijumpai maka ulama ushul fiqh mencetuskan beberapa kaidah yang berkaitan dengannya, antaralain:
.
Artinya: “Adat kebiasaan itu dapat ditetapkan sebagai hukum.”

Artinya: “Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan hukum (berhuhungan) dengan perubahan masa.”
e. Pertentangan ‘urf dengan dalil syara’
‘Urf yang berlaku di masyarakat adakalanya bertentangan dengan nash dan dalil syara’ lainnya. Berdasarkan dengan persoalan tersebut, para ahli ushul fiqh merincinya sebagai berikut:
a. Pertentangan ‘urf dengan nash yang bersifat khusus atau terperinci. Para ahli ushul fiqh sepakat bahwa ketika pertentangan itu menyebabkan tidak berfungsinya hukum yang dikandung nash maka ‘urf ini tidak berlaku.
b. Pertentangan ‘urf dengan nash yang bersifat umum. Apabila ‘urf yang ada ketika datangnya nash yang bersifat umum itu adalah ‘urf amali, maka terdapat perbedaan pendapat ulama tentang kehujjahannya. Menurut ulama mazhab Hanafi, apabila ‘urf itu bersifat umum, maka ‘urf tersebut dapat mengkhususkan nash yang umum.sedangkan menurut Imam al-Qorofi,’ urf seperti ini tidak dapat mengkhususkan dalil nash yang umum.
c. ‘Urf yang terbentuk belakangan dari nash umum yang bertentangan dengan’urf itu. Seluruh ulama ushul fiqh sependapat bahwa ‘urf seperti ini tidak bisa diberlakukan
2. Mashlahah Mursalah
1. Pengertian
Maslahah mursalah adalah suatu kemaslahatan dimana Syari’ tidak mensyariatkan suatu hukum untuk merealisir kemashlahatan itu, dan tidak ada dalil yang menunjukkan atas pengakuannya atau pembatalannya. Maslahat ini disebut mutlak, karena ia tidak terikat oleh dalil yang mengakuinya atau dalil yang membatalkannya. Misalnya ialah kemashlahatan yang karenanya para sahabat mensyariatkan pengadaan penjara, pencetakan mata uang atau lainnya yang termasuk kemashlahatan yang dituntut oleh keadaan-keadaan darurat, berbagai kebutuhan, atau berbagai kebaikan namun belum disyariatkan hukumnya, dan tidak ada bukti syara’ yang menunjukkan terhadap pengakuannya atau pembatalannya . Jadi pembentuk hukum dengan cara mashlahat mursalah semata-mata untuk mewujudkan kemaslahatan manusia dengan arti untuk mendatangkan manfaat dan menolak kemudharatan dan kerusakan bagi manusia.
Maslahah mursalah juga merupakan maslahat-maslahat yang bersesuaian dengan tujuan-tujuan syariat islam, dan tidak ditopang dengan sumber dalil yang khusus baik bersifat melegitimasi atau membatalkan maslahat tersebut. Jika maslahat didukung oleh sumber dalil yang khusus, maka termasuk dalam qiyas dalam arti umum. Dan jika terdapat sumber hukum yang khusus yang bersifat membatalkan maka maslahat tersebut menjadi batal. Imam malik adalah Imam madzhab yang menggunakan dalil maslahah mursalah. Untuk menerapakan dalil ini ia mengajukan tiga syarat yang dapat dipahami, adapun syaratnya yaitu:
a. Adanya persesuaian antara maslahat yang dipandang sebagai sumber dalil yang berdiri sendiri dengan tujuan-tujuan syariat
b. Mashlahat bersifat rasional dan pasti.
c. Penggunaan mashlahat ini adalah dalam rangka menghilangkan kesulitan yang mesti terjadi.

2. Argumentasi Maslahah Mursalah
Ulama Malikiyah dan Hanabilah menerima Maslahah Mursalah sebagai dalil dalam menetapkan hukum, bahkan mereka dianggap sebagai ulama fiqh yang paling banyak dan luas penerapanya. Untuk menjadikan maslahah mursalah menjadi dalil, ulama Malikiyah dan Hanabilah bertumpu pada;
a. Praktek para sahabat yang telah menggunakan maslahah mursalah diantaranya, saat sahabat mengumpulkan al-Quran kedalam beberapa mushaf. Padahal hal ini tidak dilakukan pada masa Rosululloh SAW. Alasan yang mendorong mereka tak lain untuk menjaga al-Quran dari kepunahan karna banyak hafidz yang meninggal. Selain itu, merupakan bukti nyata dari firman Allah:

  •     
Artinya; “Sesungguhnya kamilah yang menurunkan alquran, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya”(Q.S: Al-hijr).
b. Adanya maslahath berarti sama dengan merealisasikan maqosid as-syari’. Oleh karena itu, wajib menggunakan dalil maslahah karena merupakan sumber hukum pokok yang berdiri sendiri.
c. Seandainya maslahah tidak diambil pada setiap kasus yang jelas mengandung maslahat, maka orang-orang mualaf akan mengalami kesulitan, Allah berfirman:
       

Artinya; “Dia tidak sekali-kali menjadikan kamu dalam agama suatu kesempitan” (Q.S: Al Hajj 78)

Demikianlah alasan-alasan yang dikemukakan oleh imam malik dan hanabilah. Sedangkan dari golongan syafi’I dan hanafi tidak mengagap maslahah mursalah sebagai sumber hukum yang berdiri sendiri dan memasukannya kedalam bab qiyas. Para penolak legalitas maslahah mursalah mendasarkan pendapatnya dengan beberapa alasan:
a. Penerapan maslahah mursalah berpotensi mengurangi kesakralitasan hukum-hukum syariat.
b. Posisi maslahah mursalah berada dalam pertengahan penolakan syara’ dan pengukuhannya pada sebagian yang lain.
c. Penerapan maslahah mursalah akan merusak unitas dan universalitas syariat islam.
Jumhur ulama menerima maslahah mursalah sebagai metode ishtimbath huukum dengan alasan:
a. Hasil induksi terhadap ayat atau hadits menunjukkan bahwa setiap hukum mengandung kemaslahatan bagi umat manusia
Kemaslahatan manusia akan senantiasa dipengaruhi perkembangan tempat, zaman dan lingkungan mereka sendiri. Apabila syariat islam terbatas pada hukum-hukum yang ada saja, akan membawa kesulitan.
C. Penutup

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ‘urf dan mashlahah mursalah memiliki pengaruh besar terhadap proses penentuan hukum syara’ yang di ijtihadkan para fuqoha, walaupun masih adanya perbedaan pendapat dalam penggunaannya sebagai dalil pensyariatan. Maka dari itu Banyak produk hukum yang dihasilkan dengan metode ini. Karena pada umumnya nash-nash al-Quran dan al-Sunnah bersifat global, hanya menjelaskan prinsip-prinsip. Maka dari itu, metode ini dapat memberikan kesempatan luas untukpengembang hukum dalam bidang muamalah.

Referensi

Ilmiah, Forum Karya. 2004. Kilas balik teoritis fiqh islam. Kediri: P.P
Jumantoro, Totok dan Samsul Munir Amin. 2005. Kamus Ilmu Ushul Fiqh. Jakarta: Amzah

Dahlan, Abdul Azis. 2005. Ensiklopedi Hukum Islam. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve

Ma’shum, Saifullah dkk. 1994. Terjemahan Ushul Fiqh Muhammad Abu Zahrah. Jakarta: Pustaka Firdaus

Zuhri, Moh. dan Ahmad Qarib. 1994. Terjemaham Ilmu Ushul Fiqh. Semarang: Dina Utama

Iklan

About sirojul muttaqin

saya adalah seorang anak yang suka dengan tantangan dan rasa keingintahuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s